Mom&Dad

2017, A Mellowdramatic Year

heart-3063045_1920

Belum jauh jauh banget kan bercerita tentang tahun lalu di tahun baru ini. Demi memulai menulis lagi di tahun ini, kita awali dengan bercerita tahun yang lalu. Curhatan tersembunyi mungkin tapi karena sudah berlalu kita anggap sebagai bahan pelajaran saja.

Tahun 2017, adalah tahun yang membuat napasku terasa sangat berat. Dimulai dari kondisi awal tahun harus di rawat inap karena terdiagnosa positif demam berdarah. Merasakan badan tidak karuan lebih dari waktu hamil dua anak. Merasa bersalah karena berpisah sama anak anak dan ditambah ditinggal pergi sama mba rewang #dramarewang 🙁

Tahun 2017 lalu dilalui dengan Pak Akhmad stand by dirumah karena keadaan bisnis oil and gas saat itu sedang menurun banget. Setelah hampir 4 tahun  menikah dan LDM, hampir 10 tahun kenal tapi LDR juga, maka hari hari bersama di rumah adalah sebuah adaptasi yang luarr biasa jungkir baliknya. Pak Akhmad yang biasa memanjakan istrinya (serius, beliau sering banget manjain aku) harus dapat perlakuan dari istrinya nungguin anak dirumah sementara akunya kerja. Kerjanya padahal cuma di klinik kecil yang mana jasa medisnya pun tak seberapa:))apa yang terjadi? kami sering sekali berantem, beberapa kali bahkan aku sampai menangis kencang sampai sesak napas, dan satu dua kali kami sampai saling diam selama beberapa hari. Ego kami berdua sama keras, dan hal yang biasanya kami pendam karena LDM akhirnya nampak. Tapi ketahuilah, tidak ada keluarga yang tidak punya luka. Pun dengan keluarga kami. di hari hari berikutnya saat sedang sedih, banyak tekanan atau habis berantem, yang kami lakukan adalah membuat kopi bersama, berpelukan dan bershalawat. Ya, pada akhirnya kalo pikiran kami masing masing mentok, jalan satu satunya adalah meminta bantuan Sang Maha Penyayang, memintaNya untuk memberikan kami kekuatan untuk berjuang bersama sebagai keluarga.

Di tahun 2017 , kami memutuskan membuat greenhouse, mendirikan brand Hidroponikan, dunia yang sangat jauh dari latar belakang pendidikan kami berdua.Uang yang keluar tidak sedikit, dan sampai saat ini masih kami jalankan. Karena pilihan tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk mengistirahatkan dulu usaha perlengkapan asi di Mimom ASI. Aku masih melayani penyewaan freezer asi, tapi untuk jual beli online kuhentikan. Padahal saat itu, mimom ASI sedang punya brand awarness yang lumayan untuk ukuranku. toh, semua pilihan ada konsekuensinya kan? Alhamdulillah, Hidroponikan sejak 3 bulan terbentuk mendapat antusiasme yang tinggi sekali. Hal tersebut sangat membuat hangat hati kami meskipun nilai ekonominya masih belum cukup untuk dikatakan sukses. Pernah suatu hari, pak Akhmad pulang , basah terkena hujan deras dengan celana dan sandal penuh lumpur dari tanah di kebun, kami berhitung uang yang diperoleh hari itu. Alhamdulilah, dapat seratus ribu rupiah. Uang yang biasa kami habiskan dalam satu kali ke gerai minimarket, kami syukuri hari itu dengan mata berkaca kaca sebagai rizki dari Allah:’)

Tahun 2017 adalah tahun dimana hatiku harus merelakan kehilangan salah satu teman yang sudah kuanggap sebagai kakak. Pedih rasanya sewaktu tahu apa yang dilakukannya dibelakangku, di belakang temen temen komunitas lainnya. Total ada 4 hari kami menyelesaikan masalah komunitas kami saat itu. Berakhir dengan keputusan kami tidak lagi memakai nama komunitas tersebut. Lukanya masih membekas karena yah selama hampir 2 tahun kami sudah seperti saudara. Tapi bagian merelakan adalah salah satu pelajaran hidup kan?

Di tahun 2017 ini, dengan pahit aku katakan, berat badanku melambung tinggi sangat tinggi, hampir 20 kg sendiri dalam waktu satu tahun. Apa yang aku lakukan? mungkin karena mencari kenyamanan untuk hati yang jungkir balik, hati yang aku jaga supaya tidak jatuh depresi berat, aku setiap harinya mengkonsumsi makanan kurang sehat dan minuman manis. Aku bahkan bisa minum lebih dari 2 cangkir kopi setiap harinya. Naiknya berat badan akhirnya dibarengi dengan bully an tentang fisik yang hampir kuterima dari semua orang. Kenapa aku sebut membully? karena diucapkan tanpa tendeng aling aling, sekedar basa basi saat pertama kali bertemu setelah sekian lama, atau memang menyebutnya sebagai kegagalan hidup. Iya betul, untuk beberapa orang didekatku, badanku yang bertambah gemuk dianggap sebagai kegagalan. Karena biasanya, aku dianggap mulus dan berhasil , berat badan yang bertambah ini tentunya dijadikan bahan yang enak untuk diejek. Aku bahkan pernah dibilang monster karena mondar mandir di acara nikahan salah satu kerabat. Aku pulang ke rumah, menangis sejadinya dan bertekad untuk mengubah gaya hidupku. Akhirnya berat badanku berangsur angsur turun, belum banyak sih, hanya 1-2 kg sebulan,tapi kuanggap itu sebagai angin segar untukku ditahun 2018 ini.

di tahun 2017 ini, aku seperti Ibu yang hanya mengalir mengikuti arus, main seperlunya dengan anak anak, tidak ada homeschooling plan seperti tahun 2016 yang begitu tertata. Aku bahkan pernah beberapa kali membentak keras anak anak, menyesal?banget. Nangis ? tentu saja.  Pelan pelan aku menata lagi. bahwa apapun yang terjadi di hidupku, anak anak harus menerima Ibu yang bahagia. Perjuangan yang harus kulakukan setiap harinya. Ikhitiarku untuk amanah Allah. Bersyukur, mereka sekarang jauh lebih aktif. Kami sering tidur berempat sekedar berpelukan, berciuman ringan dan melafalkan dalam hati, bahwa hidupku akan baik baik saja karena aku punya mereka dan suamiku.

Di akhir tahun 2017, setelah drama 1 tahun, aku memberanikan diri, datang ke tanah , ke ‘rumah’ Allah. Aku yang tidak punya ekspektasi apapun, cenderung berpikir ini toh hanya formalitas ibadah semata, ternyata masih mampu menangis tersedu sedu ketika menjalani tawaf. Aku berusaha keras menahan isakanku saat melewati Rukun Yamani dan Hajr Aswad dan berteriak lirih Allahu Akbar. Aku bisa menangis saat sujud ditiap shalat fardhu. Aku baru tahu, bahwa bukan Allah yang menjauhi kita, tapi hati kita yang terlalu keras untuk menerima hidayahNya. tapi seperti batu yang keras yang bisa bolong karena tetesan air, hati ini ternyata masih mampu hangat dengan nilai nilai tersebut. Perjalanan umroh kemarin akhirnya membawa hatiku kembali, membawa semangatku kembali,menjadi seorang Arum yang selalu berpikir positif dan melakukan hal positif tanpa memikirkan hal terlalu dalam sampai merenggut kebahagianku sendiri. Aku ingin kembali jadi Arum yang mantap menentukan tujuan hidupnya, tujuannya membina rumah tangga. Aku ingin kembali jadi Arum yang tidak terlalu khawatir dengan apa yang terjadi didepan.

Akhirnya tahun 2017 kemarin, aku habiskan dirumah bersama kedua anakku, sementara suamiku sudah sedang bekerja di kota lain, berjuang untuk keluarga kecil kami. aku habiskan tidak lagi menyusun resolusi resolusi.  Yang kulakukan hanya bersujud, berterima kasih kepadaNya atas hidup selama ini. Aku tahu, bukan perubahan tahun yang menentukan perubahan hidup kita hanya dalam satu malam berubah. Aku siap menjalani tahun 2018 bukan karena perubahan, tapi karena aku yakini Allah akan mencukupkan hidup hambaNya sesuai suratannya. Akan selalu ada hal hal baik diakhir. Jika belum baik, tandanya belum berakhir:)

Processed with VSCO with c1 preset
Processed with VSCO with c1 preset
(Visited 26 times, 1 visits today)

1 thought on “2017, A Mellowdramatic Year”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *