September 7, 2016 mimom 0Comment

Disclaimer : I am not Sufi or even  proceed on the path. This paper is limited personal experiences with limited knowledge.

Pertengahan tahun 2011 salah seorang sahabat dari Pakistan memberikan saya mp3 lagu dari penyanyi terkenal di negaranya, yang belakangan saya ketahui jenis musik itu bernama Qawwali.

Hentakan kendang atau tepatnya tabla diiringi harmonium (sejenis piano) dibalut suara melengking sang vokalis menusuk langsung, dan saat itu juga kita seolah-olah terdampar disuasana khas aroma persia. Ya Qawwali memang kebudayaan tradisional dari negara India & Pakistan. Sebagaimana gamelan yang berasal dari jawa, nyanyian atau tembang yang dinyayikan dalam Qawwali bernafaskan ucapan spiritual dari Nabi dan pujian dari Allah.

Qawwali yang terkait erat dengan tradisi Sufi, yang mengedepankan disiplin prilaku yang fokus berusaha untuk mencapai kebenaran dan kasih Allah dalam pengalaman pribadi. Pada umumnya muslim percaya selalu berada pada jalan Allah dan percaya dapat mencapai Nya hanya pada saat setelah kematian atau penghakiman terakhir. Sufi percaya sebaliknya bahwa Tuhan dapat dicapai selama dalam hidup dengan laku disiplin dan metode yang berbeda.

Qawwali dapat dilihat juga sebagai perpanjangan dari bentuk zikir dengan penggunaan musik sebagai kekuatan spiritual yang muncul pada akhir abad ke-11. Budaya ini berlangsung di bawah arahan seorang pria yang dihormati secara rohani (Shaikh/Mursyid).

Ada proses psikologis yang sangat spesifik dalam Qawwali sebagai nyanyian lagu. Dalam keadaan psikologis nyanyian diterima dengan cara yang tidak seperti bentuk standar ekspresi musik. Kata-kata yang dinyanyikan, cukup berulang kali dengan variasi yang dimaksudkan untuk membawa keluar atau lebih dari arti lirik itu sendiri. Setelah beberapa saat setelah ada pengulangan, bahwa kata-kata berhenti untuk notifikasi arti. Ini adalah tujuan untuk memimpin pendengar dan pemain sama-sama menjadi trance. Dalam situasi yang ideal peserta tersebut akan dipindahkan ke keadaan pencerahan spiritual (fana).

Musik yang memang bersifat universal dapat dinikmati semua golongan umat  membawa tidak hanya orang-orang dari Pakistan atau India saja yang menyukainya. Eddie Vadder vokalis band rock ternama Pearl Jam pernah turut bagian berkolaborasi dengan seniman ternama qawwali asal Pakistan Ustadz Rahat Fateh Ali Khan. Kolaborasi budaya timur barat ini menciptakan sesuatu yang sebagaimana khas musik Qawwali yang membawa manusia ke arah kebenaran yang universal.
Dalam lirik lagu face of love dari dua musisi hebat ini jelas sekali arahan mistisme untuk menuju cinta Tuhan yang sejati.
Jeena kaisa pyar bina [what is life without love?]
Is duniya mein aaye ho to [now that you have come to this world]
Ek duje se pyar karo [love each other, one another]
Jeena kaisa pyar bina [what is life without love?]
Is duniya mein aaye ho to [now that you have come to this world]
Ek duje se pyar karo [love each other, one another]
Look in the eyes
Of the face of love
Look in her eyes
Oh, there is peace
No, nothing dies
Within pure light
Only one hour
Of this pure love
To last a life
Of thirty years
Only one hour
So come and go
Dalam film modern yang bertemakan sufi tidak sedikit terselip scoring musik atau adegan Qawwali. Yang terbaru seperti dalam film Bajrangi Bhaijaan yang menceritakan antara seorang anak perempuan dari keluarga muslim fanatik di negara Pakistan yang hilang tersesat dan akhinya diselamatkan oleh seorang dari Hindu fanatik di negara India.
Itulah Qawwali sebagai bagian dari budaya Islam yang bisa menembus seluruh dunia karena spirit positif yang tersirat dalam tiap liriknya. Dan idealnya kita semua dapat menikmati dan terbawa tanpa harus paham tiap kata nya, dengan sifat universal menuju pencerahan, cinta kepada Tuhan Yang Rahman dan Rahim.
(Visited 11 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *