Bookroom

Sastra Pelembut Jiwa

Dalam sebuah buku salah seorang sastrawan handal Indonesia Remy Sylado mengatakan adat kebiasaan membaca sastra merupakan budaya elok yang membedakan manusia dengan hewan.

Manusia terdiri dari dua unsur dalam dirinya yaitu jasmani dan rohani. Jasmani yang terlihat secara fisik sedangkan rohani merupakan kebalikan daripadanya. Jasmani membutuhkan makanan, udara, aktifitas fisik untuk menjaga keberlangsungannya sedangkan sisi rohani membutuhkan hal lain yang terkait kebutuhan rasa dalam hati manusia, seperti kedamaian dan kebahagiaan.

Seni merupakan salah satu ‘makanan’ rohani yang dengannya setiap jiwa dapat merasakan rasa. Cara pandang dalam menilai keindahan yang ada dalam sesuatu mengakibatkan seni memiliki sensasi rasa keindahan tersendiri. Tiap diri akan merespon seni sesuai kadar kejiwaan nya masing-masing individu.¬† Saya bukan seorang ahli dalam hal berkesenian, apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini hanya berupa pendapat pribadi yang berdasarkan pengalaman melakukan.

Membaca karya sastra membutuhkan daya imajinasi dalam keterbatasan tulisan-tulisan, baik itu cerita, dongeng terlebih lagi puisi. Puisi dimana tiap katanya memiliki makna spesial sering digunakan para sastrawan untuk melontarkan ide atau gagasan secara halus tersembunyi dan tidak langsung.

Puisi banyak digunakan oleh para sufi untuk menumpahkan kerinduan, kecintaanya pada Ilahi. Jalaluddin Rumi salah satu sufi besar yang menuangkan kecintaanya dalam bait syair puisi.

cintarumi

Dr. Haidar Bagir dalam bukunya Mereguk Cinta Rumi menggunakan tag line “Serpihan-Serpihan Puisi Pelembut Jiwa” untuk menyampaikan fungsi dari isi buku tersebut. Buku yang berisi sebagian puisi-puisi dari Jalaluddin Rumi disajikan dengan begitu elok, dengan tambahan penjelasan atau interpretasi makna dari sang penulis. Meskipun dalam pengantar penulis menyampaikan disclaimer bahwa buku itu bukan merupan karya seni sastra tapi untuk saya sangat cukup mengantarkan pembaca untuk menangkap maksud atau isi dari puisi-puisi tersebut.

Bisa saya katakan buku ini tepat untuk melembutkan jiwa, sehingga jiwa bisa menerima sinyal-sinyal yang berupa proses untuk menggapai cinta Ilahi, yang dengan keberadaannya terlihat jelas beda mana manusia dan mana hewan.

 

 

(Visited 25 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *